oleh

Tingkatkan Produktifitas Pertanian, PLN Ubah Limbah FABA jadi Pupuk

Dari uji coba yang dilakukan dilahan pertanian cabai merah, manfaat penggunaan pupuk FABA tanaman menjadi sangat kokoh dan buat berisi padat serta semakin tahan terhadap serangan wabah penyakit

 

SAWAHLUNTO – PLN kembali melakukan terobosan dalam pengelolaan limbah PLTU. Sebelumnya, PLN telah melakukan pemanfaatan FABA dalam bidang konstruksi, kali ini FABA yang dihasilkan dijadikan sebagai penyubur lahan pertanian.

PLN telah memanfaatkan 10 ton FABA PLTU Ombilin untuk pembuatan pupuk dengan komposisi FABA yang digunakan sebanyak 30%. Untuk meningkatkan secara massif penggunaan pupuk FABA tersebut, saat ini PLN tengah mengurus izin edar produk pupuk dari Kementerian Pertanian setempat.

PLN melalui PLTU Ombilin telah melakukan uji coba pemupukan dengan menggunakan FABA. Dalam uji coba tersebut PLN bekerja sama dengan BUMDes Karya Muda Mandiri. Dalam proses pembuatan pupuk, limbah fly ash yang dihasilkan dicampur dengan kotoran sapi, sekam bakar serta daun titonia sebagai pengganti unsur nitrogren. Setelah dilakukan pengadukan, bahan campuran tersebut selanjutnya melalui proses fermentasi hingga pengeringan.

FABA dapat meningkatkan efisiensi pemupukan yang pada akhirnya meningkatkan produktifitas tanaman. Kandungan silika dalam FABA bermanfaat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, daya sanggah batang, dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.

Agro industri sangat tepat untuk pengembangan dan komersialisasi pupuk ini untuk penyediaan pupuk bagi petani dalam rangka pencapaian program swasembada dan swasembada berkelanjutan.Dengan pengelolaan tersebut, PLN berhasil meningkatkan nilai limbah menjadi nilai ekonomis yang membantu meningkatkan pendapatan petani.

Muhammad Fadli yang merupakan peternak sapi dan sekaligus pengelola pupuk kompos dari kotoran sapi yang berdomisili di Nagari Tabek, Kabupaten Tanah Datar, sudah sejak tahun 2010 menggeluti bisnis tersebut.

Dia menjelaskan bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan pupuk kompos sebelumnya menggunakan kotoran sapi, serbuk gergaji, arang sekam, kapur dolomit, dan EM4. Sejak akhir tahun 2021, mulai menggunakan FABA sebagai pengganti kapur dolomit.

Muhammad Fadli menjelaskan, sejak menggunakan campuran FABA tekstur pupuk yang dihasilkan jauh lebih baik dan waktu pengembalian unsur hara di tanah jadi lebih cepat.

Hasil pupuk tersebut telah dimanfaatkan dibanyak jenis tanaman seperti padi, sayur, buah naga, kakao dan manggis dan respon petani setelah menggunakan pupuk ini sangat positif.

Anton, salah satu petani cabai dan jagung dari desa Salak menyampaikan, bahwa dari penggunaan pupuk FABA terlihat hasil buah lebih lebat dan warnanya daun dan buah lebih cerah.

“Setelah kami menggunakan pupuk campuran FABA ini terlihat kelebihannya batang tanaman cabai jadi sangat kokoh dan buah berisi padat. Selain itu tanaman terlihat tahan terhadap serangan wabah penyakit” ungkapnya. (rel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.