oleh

Industri Hulu Migas Tetap Kinclong, Usaha Kecil Go Mobile 4.0

SELAMA masa pandemi hingga pasca pandemi covid-19, tidak lepas dari pentingnya komunikasi publik. Proses komunikasi massa melalu pers sangat dibutuhkan masyarakat terkait dengan perkembangan informasi pandemi.

Sudah menjadi fakta di semua negara, semua wilayah, penanganan pandemi Covid-19 ini sangat tergantung pada proses komunikasi publik dan massa. Sehingga ini pers, media massa itu menjadi unsur sentral, unsur yang menentukan.

Demikian covid-19 memberikan tekanan di segala sektor, termasuk minyak dan gas bumi (migas). Namun tidak menyurutkan kinerja industri hulu migas Indonesia. Semester – I tahun 2021, sektor migas masih mencatatkan penerimaan negara sebesar US$ 6,67 Miliar atau setara Rp96,7 Triliun.

Dinyatakan Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto, tingginya penerimaan negara itu tidak terlepas dari harga minyak yang berangsur membaik setelah sempat jatuh di tahun 2020 lalu.

Seperti juga dirasakan oleh sektor lain, pandemi Covid-19 memberikan tantangan yang cukup berat bagi industri hulu migas. Namun SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menghadapi pandemi ini dengan melakukan usaha-usaha yang kreatif.

‘’Syukur pada Semester – I tahun 2021 ini kami berhasil memberikan penerimaan negara yang optimal,” ujar Dwi dalam kegiatan Jumpa Pers Kinerja Hulu Migas Semester – I tahun 2021,’’ujarnya dikutip dalam laman SKK Migas.

Dengan capaian saat ini, Dwi menyakini penerimaan negara dari sektor hulu migas pada akhir tahun 2021 akan mencapai sebesar Rp154 triliun.

Dwi menjelaskan, tingginya penerimaan negara tidak lepas dari harga minyak yang berangsur membaik setelah sempat jatuh di tahun 2020 lalu. “Harga ICP (Indonesian Crude Price) menunjukkan kenaikan, bahkan per Juni 2021 mencapai US$ 70,23/barel. Momentum ini akan kami gunakan secara maksimal untuk mendorong KKKS agar lebih agresif dalam merealisasikan kegiatan operasi,” tambah Dwi.

Penerimaan negara yang maksimal juga merupakan buah usaha hulu migas mengoptimalkan kegiatan dan biaya. Kegiatan yang dilakukan antara lain melalui pemilihan prioritas kegiatan work order dan maintenance routine da inspection, efisiensi general administration khususnya akibat adanya pembatasan kegiatan.

“Upaya ini berhasil membuat biaya per barel pada Semester – I tahun 2021 sebesar US$12,17/BOE, lebih rendah dibandingkan Semester – I tahun 2020 sebesar US$13,71/BOE,” jelas Dwi.

Selain penerimaan negara yang berhasil mencatatkan capaian maksimal, capaian lifting migas juga mencatatkan hasil yang baik. Capaian lifting migas pada Semester I – 2021 rata-rata 1,64 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD). Dari jumlah tersebut, lifting minyak sebesar 667 ribu barel minyak per hari (BOPD), atau 95% dari target APBN yang ditetapkan untuk tahun ini sebesar 705 ribu BOPD. Sedangkan lifting gas sebesar 5.430 MMSCFD dari target APBN sebesar 5.638 MMSCFD atau tercapai 96%.

Untuk mengejar capaian target lifting, SKK Migas dan KKKS tengah bahu membahu merealisasikan program Filling The Gap (FTG) dan mengupayakan 3 insentif hulu migas agar dapat disetujui oleh pemerintah.

Selain program FTG, usaha lain yang dilakukan SKK Migas untuk mengejar capaian target adalah mengupayakan 3 insentif hulu migas agar dapat disetujui oleh pemerintah.

SKK Migas akan mengupayakan ketiga insentif hulu migas agar dapat disetujui oleh pemerintah tersebut adalah tax holiday untuk pajak penghasilan di semua wilayah kerja migas, penyesuaian biaya pemanfaatan Kilang LNG Badak sebesar US$0,22 per MMBTU.

Termasuk dukungan dari kementerian yang membina industri pendukung hulu migas (industri baja, rig, jasa dan service) terhadap pembahasan pajak bagi usaha penunjang kegiatan hulu migas.

Sementara, Kepala Departemen Humas SKK Migas Sumbagsel, Andi Arie Pangeran mengatakan, di masa pandemi covid-19 yang masih berlangsung saat ini, peran media cukup strategis dalam menyampaikan informasi, serta mengedukasi mengenai pencegahan penyebaran covid-19 kepada masyarakat.

Berbagai kegiatan yang digelar juga merupakan forum silaturahmi SKK Migas dan KKKS dengan wartawan.

 

“Wartawan adalah mitra yang selama ini terus memberi dukungan bagi industri hulu migas untuk kelancaran operasi, dengan pemberitaan yang benar, sesuai data dan informasi terkait operasional kami. Diharapkan sinergi dengan FJM memberi manfaat positif atas program-program yang telah dijalankan pada tahun 2022,” ujarnya.

Diharapkan dengan segala keterbatasan yang ada saat pandemi, mampu melahirkan banyak terobosan dalam pelaksanaan program yang dicanangkan, terutama realisasinya.

Dengan kondisi yang ada saat ini, program 2021 berjalan sangat baik dan tetap terlaksana. SKK Migas bersama KKKS tetap komitmen menyelenggarakan program, dengan mengedepankan keselamatan dan kesehatan, guna mengantisipasi penyebaran covid-19.

“Kami sangat menghargai seluruh pihak, khususnya KKKS dan FJM, yang dengan segala upaya dan pemahaman atas segala kondisi yang ada di lingkungan hulu migas, hingga seluruh kegiatan dapat tetap berjalan baik,” ungkapnya.

Menurutnya, sudah tiga tahun SKK Migas mempertahankan sertifikat SNI 37001, terkait Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP). Agenda-agenda yang berjalan bersama SKK Migas dan KKKS tetap mengedepankan good governance dan prinsip efisiensi.

Dia menambahkan, SKK Migas dan KKKS sangat menjaga komitmen membantu meningkatkan pengetahuan dan kualitas wartawan. Mereka menyadari pentingnya keterlibatan dan kontribusi media massa mendukung berbagai kegiatan hulu migas.

“Sebanyak apapun hal yang dilakukan, tidak akan ada apa-apanya tanpa bantuan dan sinergi rekan-rekan media. Kami sangat paham, sinergi antara KKKS, mitra kerja kami dan media harus selalu dipupuk,” ujarnya lagi.

SKK Migas dan KKKS merasa bertanggung jawab untuk ikut terus berupaya meningkatkan hubungan yang baik antara kedua belah pihak, sehingga kegiatan semacam ini sangat tepat dilaksanakan untuk mewujudkan hal itu.

 

Dari sisi lain, bukan hal baru, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus bertransformasi saat bisnisnya paling terhantam pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, sebanyak 62 persen mengaku terdampak pandemi. Padahal, UMKM mampu menyerap 97 persen tenaga kerja dari total 120,5 juta tenaga kerja. Kontribusinya dalam ekspor pun mencapai 14 persen.

Staf Ahli Kementerian Koperasi dan UKM, Luhur Pradjarto menyebut, setidaknya UMKM harus bertransformasi dalam lima hal.

“Kita tahu UMKM besar kontribusinya dalam perekonomian. Terkait dengan itu, dengan adanya industri 4.0, mau tidak mau UMKM harus beradaptasi, kuncinya adalah transformasi,” kata Luhur.

Luhur merinci, transformasi yang pertama adalah transformasi bisnis dari informal menjadi formal. Kemudian, transformasi yang kedua adalah berkelompok untuk mencari terobosan baru.

Namun, pengelompokan harus disesuaikan dengan lini bisnis UMKM masing-masing. “Mereka harus bergabung, tidak bisa sendiri-sendiri supaya mencapai skala ekonomi yang bagus. Dengan kekuatan yang sama, ini nantinya akan berdaya saing,” ucap Luhur.

Industri 4.0 identik dengan digitalisasi. Oleh karena itu, transformasi digital menjadi langkah ketiga yang bisa ditempuh UMKM. Namun, transformasi digital ini butuh pelatihan, mengenai cara pemasaran, distribusinya, hingga logistiknya.

Selanjutnya, transformasi teknologi dalam produksinya. UMKM perlu dibina untuk mengadposi teknologi untuk meningkatkan produktifitas guna memenuhi permintaan pasar. Terakhir adalah mengeratkan rantai pasok. Wujudkan kemitraan dengan perusahaan besar sehingga UMKM masuk dalam ekosistem.

“Pemberdayaan UMKM juga harus diubah. Kita rancang bisnis UMKM dengan menentukan komoditas tertentu yang punya nilai ekonomi tinggi, pertanian, fashion, makanan, dan sebagainya. Pelaksanaan program ini akan mengangkat UMKM kita,” pungkasnya. (dante)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed